BULIKE: Dari Rumah, Menuju Masyarakat Berbudaya Literasi

Share

Budaya Literasi Keluarga, Kami Harus Menjadi Solusi!

Hanya ada dua pilihan,yaitu kita menjadi masalah, atau menjadi bagian dari SOLUSI! Kami memilih menjadi solusi. Budaya literasi di keluarga kami dimulai dari dua lelaki sederhana yang kami panggil Bapak. Almarhum Bapak Dadari, bapak saya, dan almarhum Bapak Soetarno, bapak dari suami.

Dimulai dari Orang Tua yang Cinta Membaca

Almarhum ayah saya, lelaki sederhana, PNS biasa, namun memberi contoh yang amat baik bagaimana kami harus menjadikan buku sebagai harta berharga. Di tengah kondisi pas-pasan, beliau kerap memboyong setumpuk buku dan majalah-majalah berkualitas ke rumah. Kebanyakan bukan barang baru, tapi beliau dapatkan di lapak loakan. Bekas, tapi yang penting otak dan jiwa kami beroleh nutrisi.

Berkat beliau saya bisa menikmati kemewahan, lahap kami baca majalah Trubus, Intisari, Tabloid Mutiara, Surat Kabar Jawa Pos, Sinar Tani dan masih banyak lagi lainnya. Di rumah kami, buku dan majalah diperlakukan penuh hormat dan kasih sayang. Diletakkan di tempat-tempat terbaik, bahkan jika ada kelebihan rezeki, Bapak tak segan membundelnya dengan apik, agar lebih awet. Membaca, secara rutin menjadi kebiasaan keluarga.

Bapak Soetarno tak kalah kuatnya mencintai bacaan. Buku dan komik-komik cerita wayang, menjadi gizi sehari-hari bagi suami saya dan saudara-saudaranya di masa kecil hingga remaja. Padahal bapak mertua juga hanya PNS biasa, dan mereka punya 6 orang anak yang tentu membutuhkan banyak biaya. Tentu tidak mudah menyisihkan dana untuk membeli buku, apalagi ibu saya dan ibu mertua juga bukan perempuan pekerja yang bisa membantu penghasilan keluarga.

Teladan ini kami pegang teguh hingga sekarang. Hidup tak selalu memberi kami kemewahan untuk bisa memboyong tumpukan buku. Tapi, kami tak putus asa, info-info diskon selalu kami manfaatkan. Selain membeli buku dengan harga umum, di toko-toko buku, tentu saja amat menyenangkan memanfaatkan diskon bahkan obral di mana saja tersedia.

Buku adalah jendela untuk melihat dunia, begitu tampaknya yang ingin ditanamkan orang tua kami. Hidup boleh sederhana, tetapi mimpi dan karya tak boleh setengah-setengah. Buku adalah jembatan yang mempersempit jurang antara kondisi kami yang sederhana masa itu, bersekolah di desa dengan fasilitas sederhana, dengan impian menghasilkan karya yang tak boleh main-main, di masa depan. Kami harus menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.

Membuat Diri Sendiri Terdidik

Sebuah karya harus dimulai dengan membuat diri sendiri melek terlebih dahulu. Karya dalam bidang apapun itu. Saya sangat menyadarinya. Melahap buku-buku berkualitas, adalah salah satu caranya. Saya bertekad menjadikan diri saya seorang pembelajar, salah satunya diawali dengan kemauan membaca buku yang baik.

Dompet agak tipis tidak mengapa, asal masih bisa membawa pulang buku-buku yang dibutuhkan atau sekadar diinginkan sebagai hiburan bergizi bagi otak dan jiwa. Di awal pernikahan kadang memang sedikit kesal pada suami yang ternyata jauh lebih royal dari saya dalam hal buku. Ayah saya dan suami ternyata tipe orang yang sama. Sama gilanya membaca. Lama kelamaan akhirnya saya mengamini saja ketika suami kerap memborong tumpukan buku. Rezeki akan selalu ada jika kami memelihara niat baik, itu saja yang diyakini. Lemari buku di rumah mungil kontrakan kami, jauh lebih cepat penuh dibanding lemari pakaian kami yang isinya hanya itu-itu saja.

Menemani si bungsu membaca, ketika dia masih kecil

Buku untuk anak-anak bahkan telah dibeli sebelum si anak lahir. Sejak masih bayi kami bergantian membacakan buku-buku cerita untuk mereka. Ketika anak-anak mulai bisa membaca, seringkali, setumpuk buku-buku yang diborong adalah buku untuk anak-anak kami.

Namun, mungkin karena setiap individu membawa karakter masing-masing, dua anak kami memiliki kebiasaan yang berbeda terkait aktivitas membaca. Dik Raniah, si bungsu tumbuh menjadi penggila buku. Meski sudah sering membeli buku, dia masih merasa kurang bahan bacaan. Jadwal membaca di perpustakaan sekolah, menjadi saat yang dinantikannya. Namun Kak Asa, si sulung justru belum terlalu menggemari buku. Walau demikian, kami tetap menyediakan dan membelikan ketika dia meminta buku tertentu. Seringkali, ujung-ujungnya adalah tak terbaca tuntas. Tak mengapa, mungkin dia masih dalam tahap belajar mencintai. Kami dorong dan sediakan saja fasilitasnya, karena begitulah seharusnya orang tua.

Perpustakaan, Tempat Bermain yang Menyenangkan

Ruang baca Teknik Lingkungan ITS, tempat saya menghabiskan banyak waktu ketika menempuh studi master.

Sejak anak-anak masih kecil, kami sering mengajak ke perpustakaan. Terutama ketika kecepatan membaca Dik Raniah sudah semakin menggila dan kami sudah kewalahan menyediakan bahan bacaan untuknya, perpustakaanlah tempat harapan kami. Sayangnya, lama-kelamaan laju membaca anak ini terlihat jauh melebihi laju pertambahan koleksi buku di Perpustakaan Daerah di kota kecil kami. Tak lama kemudian dia menjadi bosan, karena tak menemukan bacaan baru.

Mengisi buku tamu dahulu di Perpustakaan Daerah Bondowoso, berburu buku kemudian.

Setidaknya, sesekali kami masih datang ke perpustakaan. Siapa tahu kami sedang beruntung menemukan koleksi buku-buku baru. Dan jika sesekali sedikit koleksi baru kami temukan, rasanya bagaikan habis menang undian.

Share

51 thoughts on “BULIKE: Dari Rumah, Menuju Masyarakat Berbudaya Literasi

  1. Lengkap banget bahasannya, anakku juga sekarang ikut-ikutan nulis diary kegiatan hariannya, terutama kalau habis bepergian, mirip travel blogger, tapi nulisnya masih di buku

    1. Wah salut sekali dengan bapak Mbak Wid yang menyediakan buku buku dan majalah sejak Mbak Wid masih kecil ya. Aku dulu juga pengunjung setia perpustakaan. Dari SD, SMP, SMA sampai kuliah. Kecintaan membaca memang dimulai dari kecil ya Mbak. Salut sama si bungsu yang melalap semua buku. Bahkan perpus daerah ya Mbak.

  2. Jadi kena sentilan saat membaca artikel ini 🙂 kalau diingat-ingat sudah lama sekali saya ga baca buku, bahkan koleksi novel sudah mulai berdebu karena ga di tengok…
    Mulai budayakan membaca juga ah, sekalian beri contoh ke anak, kalau membaca itu menyenangkan dan bisa jadi sumber ilmu

    1. perpustakaan kota kami adalah tempat yg paling sering saya dan si kecil jadikan tujuan wisata, bermain, belajar, bergembira. Kalau saya lagi bingung, nanya si kecil :”enaknya jalan-jalan ke mana ya kita hari ini, pasti jawabnya: perpus dong.” hehehe

    2. Literasi kita memang rendah. Saya menilai diri sendiri di keluarga kami. Biasanya satu bulan minimal ada satu buku yang saya baca, sekarang malah gak ada sama sekali. Kalah sama kegiatan online dan digital. Tapi setidaknya masih terhibur dengan aktifitas menulis blog.

  3. Setujuuuu! Mau anak doyan baca ya ortunya beri contoh. Dari bayi diajak read aloud itu ngefek banget lho. Meski si anak udah bisa baca, kadang tetap bacain buat bonding juga

  4. Mbaaaak widddd ♥️♥️♥️ masya Allah keren sekaliii mbakku satu ini. Barakallah mbaak semoga apa yang dibagikan lewat tulisan yg begitu inspiratif ini memberikan banyak kebaikan lagi kedepannyaa. Terus semangat berbagi inspirasi di dunia literasi ya mbak ♥️

    Aku pribadi juga bersyukur banget punya ayah dan kakek yang gemar baca dan selalu memberikan support guna mendapatkan bacaan yg bagus dan berkualitas, semoga calon suami nanti juga begitu. Aamiin 😅 kok jd curhat disni ya hahaha

    Sukses selaluu mbakku ♥️ semogaa bisa meetup yaa someday, aku lg d surabaya ini skrng hehehe

    1. Dirimu juga kereeeeen. Apalagi ada pengalaman sekolah ke luar Indonesia juga. Itu bisa ditulis dan bakal sangat menginspirasi. Semoga dapat suami yg juga suka buku. haha…Aamiin. Aku ada rencana mengisi Writing Clinic di Surabaya.

    2. Setuju banget mbak, budaya melek dan cinta literasi itu harus dimulai dari rumah. Org tua memegang peran penting di sini.
      Btw pembahasannya lengkap banget selalu keren tulisan buketu

  5. Setelah baca ini aku jadi inget proyek nulis buku traveling yang belum selesai. Thank u mba sudah jadi kompor penyemangat wkwkkw

  6. Halo, Mbak Widya…
    Salam kenal sebelumnya,

    Berkunjung ke artikel ini mengingatkan aku yang masih malas-malasan mengerjakan deadline padahal Mbak Widya kesibukannya melebihi aku. Tidak peduli sudah atau belum menikah, literasi memang sangat diperlukan sehari-hari dengan membaca beragam buku yang tak hanya banyak tapi juga berkualitas agar kemampuan berpikir kita dapat terasah dengan baik.

  7. Bener banget mbak, memupuk budaya literasi itu memang harus dimulai dari rumah.

    Pastinya orangtua menjadi teladan bagi anak.

    Keren sekali mbak wid, ya nulis buku ya ngeblog..

    Mantap 🙂

  8. Itulah kenapa saya suka belikan buku untuk anak. Rasanya senang liat anak bahagia dan bs berbagi bacaan bersama teman2nya. Bukan barang mewah tapi bangga memilikinya karena bs membudayakan suka baca buku

  9. Sedang berproses nih untuk menjadikan rumah punya budaya literasi terutama ke anak2.. budaya membaca besar banget manfaatnya buat anak2

  10. iya emang setiap anak itu unik, perlakuannya sama tapi hasilnya bisa aja berbeda. Anak pertama saya juga penggila buku, bahkan makan pun disambi baca buku. Anak kedua, suka baca juga, tapi tak “segila” kakaknya.

    Lengkap banget ulasannya, semoga menang lombanya ya mbak

  11. Masya Allah, Mbak … biarpun mengatakan dirimu tak hebat, di mata saya dan banyak orang, Mbak Wid adalah sosok luar biasa.

    Sehat selalu ya Mbak Wid agar selalu memotivasi di grup IIDN dan di mana pun :*

  12. Sepakat banget kalau membangun literasi ini diajarkan sejak dari rumah. Nemanin nak membaca, nemanin baca buku, beliin buku. Memang ini proses tapi sebagai orangtua, kita harus lakukan ini. Semangat, mba

  13. Memang betul mbak, membuat budaya literasi lekat di kehidupan berawal dari keluarga. Menumbuhkan kecintaan itu nggak mudah, pe-er sekali jadi orang tua agar anak-anak bisa melek literasi.
    Saya besar di rumah yang penuh dengan surat kabar, majalah dan buku-buku. Lambat laun, saya pun mencintai buku. Jodoh pun dengan laki-laki pecinta buku. ^^
    Sejak kecil, anak-anak suka saya ajak ke toko buku, membiarkan mereka memilih buku sendiri.
    Itu sih, cara-cara kecil saya menumbuhkan literasi di lingkup keluarga.
    Tulisannya lengkap banget mbak, semoga menang. ^^

  14. Aku percaya bahwa tidak banyak keluarga yang membiasakan anaknya untuk dibelikan buku, mbak. Macam buku tuh harganya lebih mahal dari pada baju. Karena di lingkungan sekitarku nemu aja gitu.Tapi,aku paling suka kalau beliin ponakan aku buku cerita gitu mbak, dia antusias banget, jadi yang beliinnya tambah semangat, ehehehe
    Aku jadi inget ada banyak bukuku yang belum kubaca nih, huhuuuu

  15. Masya Allah, mentorku yang satu ini memang hebat bener. Kereen!
    Idenya bisa ditiru ini, keknya akau kurang berusaha untuk meningkatkan minat baca anak-anakku. Tapi setuju, semua dimulai dari keluarga ya..Wah jadi makin semangat lebih peduli pada budaya literasi di rumah ini

  16. Minat membaca pada anak-anak sebenarnya memang tinggi
    Kendalanta ya itu, orang tua minat beli bukunya rendah. Atau mungkin bisa jadi, pendapatannya yang minim, jadi tidak ada sisa bagian buat beli buku. Gajinya pas untuk makan.
    Saya ada keinginan membuka taman baca mungil, eh terkendala dana buat sewa kios.
    disini lumayang mahal.
    Koleksi buku saya sebenarnya juga sudah lumayanlah.

  17. Minat baca anak di mulai dari rumah ya seharusnya, tapi kadang ada beberapa orang tua keberatan untuk membelikan buku anaknya. Masih ada cara lain sih kalau memang niat supaya anak gemar membaca. Semoga masayrakat Indoensia lebih meningkatkan lagi berbuday aliterasinya

    1. Membangun busaya literasi memang tidak bisa instan ya mba, harus dimulai dari keluarga. Dari orang tua lah anak-anak belajar untuk makin mencintai aktivitas membaca yang merupakan awalan kecintaan pada literasi.

  18. aku sudah masuk ke tahapan orang tua yang support membelikan buku bacaan anak mba cuman belum pernah ajakin anak-anak ke perpustakaan nih jadi pengen deh ajakin mereka beneran kasih ide nih buat aku baca ini

  19. Happy banget kalau lihat anak-anak sedari kecil sudah suka membaca dan pintar menuliskannya kembali. Entah itu dalam bahasanya sendiri atau persis seperti aslinya. Jadi literasi itu adalah sebuah proses memahami dan belajar.

    Btw,
    Kak Widya ITS Teknik Lingkungan angkatan berapakah?
    **hehehe…ini di luar topik yaa…soalnya sepupuku juga ada yang teknik Lingkungan ITS namanya Halimatussa’diyah.

  20. Setuju mba, ortunya harus suka baca dulu baru mengajak anaknya cinta buku, sama-sama membaca buku kesukaan di rumah ya jadi tak hanya menyuruh

    1. Keren…
      Saya sempat membuat Pojok Baca di teras depan toko, tapi sekarang vakum karena kendala tempat.
      Btw, buku “Food Combining” ini sukses bikin saya berpikir seratus kali buat makan bakso lho, hehe…
      Meski kadang hasrat makan-apa-saja tetap lepas kontrol, terutama saat liburan dan jalan2.

  21. Alhamdulillah keren mbak, saya juga lagi belajar untuk menerapkan literasi ke keluarga. Semoga bisa mengikuti jejak mbak, memiliki anak yang gila baca, dan bisa menelurkan buku-buku solo yang bergizi dan manfaat. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!